RAHMAWATI, TETY (2025) ASUHAN KEBIDANAN CONTINUITY OF CARE (COC) PADA Ny. Y UMUR 31 TAHUN. Other thesis, Universitas Ngudi Waluyo.
|
Text
COC Tety R FIX!!! - tety rahmawati.pdf Restricted to Registered users only Download (3MB) |
|
|
Text
Artikel Tety R (1) - tety rahmawati.docx Restricted to Registered users only Download (49kB) |
Abstract
Masa nifas dimulai setelah dua jam lahirnya plasenta atau setelah proses persalinan dari kala I sampai kala IV selesai. Berakhirnya proses persalinan bukan berarti ibu terbebas dari bahaya atau komplikasi. Berbagai komplikasi dapat dialami ibu pada masa nifas dan bila tidak tertangani dengan baik akan memberi kontribusi yang cukup besar terhadap tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. (Maritalia, 2014). Observasi kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri sangat penting dilakukan untuk memastikan involusi uterus berjalan dengan baik dan mencegah subinvolusi uteri pada ibu nifas. Proses involusi uterus dapat terjadi secara cepat atau lambat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi involusi uterus antara lain mobilisasi dini, status gizi, menyusui, usia dan paritas. Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi yang baru lahir dan merupakan satu – satunya makanan sehat yang diperlukan bayi pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Namun demikian tidak semua ibu dapat memberikan ASI Eksklusif pada bayinya. ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan atau menggantikan dengan makanan atau minuman lain (kecuali obat, vitamin, dan mineral) (Kemenkes RI, 2018). Hasil Riskesdas tahun 2018 yang mengungkap bahwa alasan utama bayi tidak pernah disusui karena ASI tidak keluar ataupun tidak lancar pada awal masa menyusui (65,7%), bayi usia 0-5 bulan (33,3%) telah diberikan makanan prelakteal dengan jenis makanan terbanyak (84,5%) yaitu susu formula. Penyebab belum tercapainya pemberian ASI ekslusif di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah tidak lancar produksi ASI pada hari – hari pertama setelah melahirkan yang disebabkan kurangnya rangsangan hormon oksitosin dan prolaktin yang berperan dalam kelancaran produksi ASI sehingga dibutuhkan upaya tindakan alternatif atau penatalaksanaan berupa pijat oksitosin, karena pijat oksitosin sangat efektif membantu merangsang pengeluaran ASI (Pilaria dan Sopiatun, 2017). Metode dalam penelitian ini diskriptif yang berupa studi penelaahan kasus (case study) yaitu meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Unit tunggal yang dimaksud dapat berisi 1 orang, sekelompok penduduk yang terkena suatu masalah. Masalah yang peneliti temukan berupa ASI belum lancar pada kunjungan nifas 4 hari post SC. Asuhan yang peneliti berikan berupa pijat oksitosin yang bertujuan untuk memperlancar produksi ASI. Setelah dsiberikan terapai tersebut, ASI Ny. Y keluar lancara dan tidak ada masalah lain yang ditemukan pada masa nifas. Asuhan pada Ny. Y di Puskesmas Jumo telah diberikan secara komprehensif dan persalinan dilaksanakan di RS PKU Muhammadiyah karena ibu riwayat SC. Pemberian asuhan pada Ny. Y sudah sesuai dan tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus.
| Item Type: | Thesis (Other) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Contributors: |
|
||||||||
| Keywords: | Nifas, Pijat Oksitosin, Komplementer | ||||||||
| Subjects: | R Medicine > RG Gynecology and obstetrics | ||||||||
| Divisions: | Fakultas UNW > Profesi Kebidanan | ||||||||
| User Id: | UPT Perpustakaan UNW 11 | ||||||||
| Date Deposited: | 19 Oct 2026 02:32 | ||||||||
| Last Modified: | 19 Oct 2026 02:32 | ||||||||
| URI: | http://repository2.unw.ac.id/id/eprint/6902 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
